Senin, 17 Oktober 2011
Tugas Pertemuan ke VI
Senin, 10 Oktober 2011
Tugas Pertemuan ke V
Tugas Anda adalah membuat resume tentang Angka indeks ! Read More......
Senin, 03 Oktober 2011
PENGANTAR MANAJEMEN
A. Pengertian Manajemen
Sebelum membahas lebih jauh tentang manajemen maka terlebih dahulu kita akan menjelaskan pengertian manajemen. Ada beberapa pengertian manajemen menurut beberapa pakar yaitu :
1. Pengertian manajemen menurut Stoner adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2. Pengertian Manajemen menurut Follet ,(1997) adalah Seni dalam menyelesaikan sesuatu melalui orang lain
3. Pengertian manajemen menurut Nickels, McHugh and McHugh (1997) adalah Sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya
4. Pengertian manajemen menurut Ernie&Kurniawan ( 2005) adalah suatu Seni atau proses dalam menyelesaikan sesuatu yang terkait dengan pencapaian tujuan.
Dari beberapa pengertian manajemen tersebut tersebut
Setelah menelaah beberapa pendapat pakar dan ahli manajemen tersebut maka penulis berkesimpulan ada beberapa hal yang sangat mendasar dalam memahami pengertian manajemen yaitu :
1. Merupakan sebuah proses dalam pencapaian tujuan
2. Merupakan ilmu sekaligus seni dalam mencapai tujuan
3. Melibatkan serangkaian aktivitas yang terarah
4. Melibatkan pihak lain maupun sumber daya yang tersedia dalam proses pencapaian tujuan.
Dari keempat poin tersebut penulis mendefenisikan pengertian manajemen sebagai suatu proses yang melibatkan aktivitas yang terencana, terorganisir,melalui suatu pengarahan dan terkontrol dalam hal melibatkan pihak lain serta mengunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan organisasi. (Bersambung)Read More......
Sabtu, 01 Oktober 2011
Cara membuat Analisis Pembahasan Skripsi
1. Pada paragraf awal disajikan hasil yang diperoleh
2. pada paragraf kedua disajikan teori yang berhubungan.
3.pada paragraf ketiga disajikan penelitian yang berhubungan dengan penelitian.
4. pada paragraf keempat membandingkan antara hasil, konsep teori dan penelitian sebelumnya.
A. Pembahasan
1. Umur
Berdasarkan hasil yang diperoleh di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep periode 2007 – 2010, menunjukkan dari 12 kematian maternal lebih banyak terjadi pada umur berisiko tinggi yaitu 10 orang (83,33%).
Keterkaitan umur dan faktor risiko di jelaskan oleh Rochjati P (2003), bahwa kurun waktu reproduksi sehat atau dikenal dengan usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah umur 20 sampai 30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata dua sampai lima kali lebih tinggi dari pada kematian maternal yang terjadi pada usia 20 sampai 29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia sampai 35 tahun.
Usia di bawah 20 tahun pada kehamilan atau melahirkan sangat mudah memiliki beberapa risiko, selain itu pada usia ini keadaan alat reproduksi belum siap menerima kehamilan sehingga akan meningkatkan keracunan kehamilan, dalam bentuk preeklampsia dan eklampsia, bahkan dapat mengakibatkan partus macet dan lebih serius lagi mengakibatkan perdarahan yang hebat pada saat akan melahirkan, komplikasi tersebut dapat berujung dengan kematian ibu ( Rochjati P, 2003).
Sedangkan pada usia 35 tahun atau lebih rentan terjadi berbagai penyakit dalam bentuk hipertensi dan eklampsia, ini disebabkan oleh karena terjadinya perubahan pada jaringan alat-alat kandungan dan jalan lahir tidak lentur lagi, selain itu juga diakibatkan karena tekanan darah yang meningkat seiring pertambahan usia sehingga dapat berakibat pada kematian maternal ( Rochjati P, 2003).
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Tambunan JN (2007) menunjukkan dari 7 kasus kematian maternal 5 orang (71,43 %) adalah ibu dengan faktor risiko usia yakni kurang dari 20 tahun dan usia lebih besar dari 35 tahun. Sedangkan 2 orang (28,57 %) berada dalam kategori usia dengan risiko rendah yaitu berada pada usia 20 – 35 tahun.
Hasil menunjukkan adanya kesesuaian antar hasil yang diperoleh dengan teori yang dikemukakan pada tinjauan pustaka dan penelitian sebelumnya bahwa risiko tinggi kematian maternal terjadi pada umur ibu < 20 tahun dan > 35 tahun. Sedangkan umur ibu 20 - 35 tahun adalah usia yang memiliki risiko rendah.
2. Paritas
Berdasarkan hasil yang diperoleh di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep periode 2007 – 2010, menunjukkan dari 12 orang kematian maternal lebih banyak terjadi pada kelompok paritas berisiko tinggi sebanyak 8 orang (66,67%).
Secara teoritis Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Makin tinggi paritas ibu maka makin kurang baik endometriumnya (Wiknjosastro, 2007).
Widyastuti (2007), menjelaskan patofiosiologi edometrium pada paritas tinggi yaitu defek vaskularisasi desidua oleh peradangan dan atrofi, cacat/jaringan parut pada endometrium oleh bekas-bekas pembedahan (SC, kuret, dan lain-lain), khorion leve persistens, korpus luteum bereaksi terlambat, konsepsi dan nidasi terlambat, plasenta besar pada hamil ganda dan eritropblastosis atau hidrops fetalis.
Vaskularisasi yang berkurang ataupun perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan yang lampau sehingga dapat mengakibatkan terjadinya plasenta previa, perdarahan dan berlanjut kepada komplikasi yang lain yang dapat berakhir dengan kematian ibu (Widyastuti, 2007).
Penelitian terkait dengan kematian maternal dan paritas ibu dilakukan oleh Wiludjeng Rukmini, Lk (2005) menunjukkan dari 12 orang yang mengalami kematian maternal 2 orang (16,7 %), dengan faktor risiko paritas ≤ 1, paritas 2-3 sebanyak 4 orang (33,3%) dan paritas lebih dari 3 sebanyak 6 orang (50 %), penelitian ini menunjukkan bahwa kematian maternal lebih banyak terjadi pada paritas 1 dan paritas lebih dari 3.
Hasil yangdiperoleh berkaitan dengan paritas dan angka kematian maternal menunjukkan adanya kesesuaian antara teori dan hasil penelitian sebelumnya, yaitu faktor Paritas ≤ 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi serta merupakan faktor risiko tinggi dan paritas 2-3 merupakan faktor risiko rendah.
3. Pendidikan
Berdasarkan hasil yang diperoleh di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep periode 2007 – 2010, menunjukkan dari 12 kematian maternal lebih banyak terjadi pada ibu kelompok berpendidikan rendah yaitu sebanyak 9 orang (75 %).
Menurut Wiludjeng Rukmini, LK. (2005) dalam penelitianya menemukan bahwa rendahnya pendidikan ibu akan berdampak pada rendahnya pengetahuan ibu yang berpengaruh pada keputusan ibu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Makin rendah pengetahuan ibu, makin sedikit keinginannya untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan. Pendidikan ibu adalah faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap pencarian pertolongan persalinan di pedesaan di samping faktor jarak ke tempat pelayanan kesehatan dan status ekonomi.
Penelitian tersebut diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Eko Retnoningsih ( 2009) menemukan dari 26 kasus kematian maternal yang terjadi di sumatera selatan tahun 2008 menunjukkan sebanyak 18 orang ( 69,2%) memiliki tingkat pendidikan ≤ SLTP
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kesesuaian antara teori dan penelitian sebelumnya, rendahnya tingkat pendidikan ibu memiliki risiko tinggi terhadap kematian maternal.
4. Komplikasi Obstetrik
Berdasarkan hasil yang diperoleh di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep periode 2007 – 2010, menunjukkan dari 12 kematian maternal berdasarkan komplikasi obstetrik lebih banyak terjadi pada ibu yang mengalami perdarahan post partum yaitu sebanyak 6 orang (50 %).
Terkait dengan komplikasi maternal tersebut, Menurut WHO ( 2010) setiap tahun, sekitar 8 juta perempuan menderita akibat komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan lebih dari setengah juta telah meninggal. Di banyak negara berkembang, 1 diantara 16 wanita akan meninggal akibat komplikasi kehamilan.
Menurut WHO ( 2010), bila semua penyebab langsung dan tak langsung terjadinya kematian ibu digabungkan, urutan penyebab kematian utama berdasarkan jenjang fasilitas pelayanan, penyebab kematian yang paling umum berturut turut adalah Perdarahan obstetrik, khususnya perdarahan pascapersalinan, penyebab berikutnya adalah Infeksi yang bukan disebabkan oleh kehamilan dan yang terakhir adalah Komplikasi hipertensi dalam kehamilan
Dari penelitian sejenis yang dilakukan Aruliata Ika Febriana ( 2007) menunjukkan dari Pola penyebab kematian maternal pada 52 kasus kematian maternal di Kabupaten Cilacap menunjukkan penyebab kematian maternal tertinggi adalah perdarahan (34,6%), disusul oleh penyakit yang memperburuk kondisi ibu (26,9%), preeklamsia dan eklamsia (23,1%), infeksi nifas (7,7%), syok saat induksi persalinan (1,9%), emboli air ketuban (1,9%), abortus infeksiosus (1,9%) dan hiperemesis gravidarum yang mengalami dehidrasi berat (1,9%).
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan adanya kesesuaian dengan teori dan penelitian sebelumnya. Bahwa komplikasi obstetrik masih didominasi oleh trias klasik penyebab kematian maternal yakni Perdarahan, Eklampsi dan infeksi.
Read More......







