Pekerjaan juga seringkali meliputi penggunaan waktu dan usaha di luar keinginan individu pekerja. Banyak pekerja yang melakukan pekerjaan rutin, yang tidak atau hanya sedikit menuntut inisiatif dan tanggungjawab, dengan sedikit harapan untuk maju atau berpindah kejenis pekerjaan lain. Banyak juga pekerja yang melakukan tugas yang berada jauh dibawah kemampuan intelektual mereka atau yang mereka anggap berada dibawah tingkat pendidikan yang telah mereka peroleh. Di banyak kantor dan innstansi , pekerjaan telah sangat ‘dirasionalisasikan’, dipecah-pecah kedalam tugas-tugas yang sederhana, monoton, dan menjemukan, yang hanya sesuai bagi robot yang tidak dapat berpikir, yang pada akhirnya menimbulkan stress ditempat kerja atau yang lasim disebut stres kerja.
Stres ditempat kerja membebani perusahaan dengan biaya mahal. Suatu studi mengungkapkan bahwa perusahaan kehilangan penghasilan sebesar US$ 68 milyar pertahun karena menurunya produktivitas sebagai efek stress karyawan (Gibson,1993 ). The seventh Annual Labour Day Survey (2001)melaporkan bahwa 1 dari 5 orang penduduk Amerika mengalami Stres kerja disepanjang hidup mereka..
Northwestern National Life Insurance Co, Princeton Survey Research Associates, St. Paul Fire and Marine Insurance Co., Yale University and The Families and Work Institute ( 1990 ) ” 40% of workers reported their job was very or extremely stressful” 40 % pekerja di Amerika mengalami Stres berat berkaitan dengan pekerjaan mereka.
Fenomena stres kerja itu sendiri masih samar untuk didefenisikan,seperti yang dikutip dalam The American Institute of Stress (2006) “Stress is difficult for scientists to define because it is a highly subjective phenomenon that differs for each of us. Namun Hans Selye (1936), mendefinisikan “Stress is the non-specific response of the body to any demand for change”stress adalah respon nonspesifik tubuh terhadap berbagai perubahan.
Oleh para ahli perilaku organisasi, telah dinyatakan sebagai agen penyebab dari berbagai masalah fisik, mental, bahkan output organisasi. Stres kerja tidak hanya berpengaruh terhadap individu, tetapi juga terhadap biaya organisasi dan industri. Banyak studi yang menghubungkan stres kerja dengan berbagai hal, misalnya stres kerja dihubungkan dengan kepuasan kerja, kesehatan mental, ketegangan, ketidak hadiran, dan sering juga dihubungkan dengan kinerja.
Ada beberapa alasan mengapa masalah stres yang berkaitan dengan organisasi perlu diangkat ke permukaan pada saat ini (Nimran, 1999:79-80). Diantaranya : pertama: masalah stres adalah masalah yang akhir-akhir ini hangat dibicarakan, dan posisinya sangat penting dalam kaitannya dengan produkttfitas kerja karyawan. Kedua: selain dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersumber dari luar organisasi, stress juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam organisasi. Oleh karenanya perlu disadari dan dipahami keberadaannya.Ketiga: pemahaman akan sumber-sumber stres yang disertai dengan pemahaman terhadap cara-cara mengatasinya, adalah penting sekali bagi karyawan dan siapa saja yang terlibat dalam organisasi demi kelangsungan organisasi yang sehat dan efektif.Keempat : banyak di antara kita yang hampir pasti merupakan bagian dari satu atau beberapa organisasi, baik sebagai atasan maupun sebagai bawahan, pernah mengalami stres meskipun dalam taraf yang amat rendah. Dan yang terakhir bahwa dalam zaman kemajuan di segala bidang seperti sekarang ini manusia semakin sibuk. Di situ pihak peraiatan kerja semakin modern dan efisien,dan di lain pihak beban kerja di satuan-satuan organisasi juga semakin bertambah. Keadaan ini tentu saja akan menuntut energi pegawai yang lebih besar dari yang sudah-sudah. Sebagai akibatnya, pengalaman-pengalaman yang disebut stres dalam taraf yang cukup tinggi menjadi semakin terasa.
Randall Schuller (1980), mengidentifikasi beberapa perilaku negatif karyawan yang berpengaruh terhadap organisasi. Menurut peneliti ini, stress yang dihadapi oleh karyawan berkorelasi dengan penurunan prestasi kerja, peningkatan ketidakhadiran kerja, serta tendensi mengalami kecelakaan.
Berpijak dari pendapat Randall Schuller diatas bahwa stres kerja pada akhirnya akan mengarah pada penurunan motivasi kerja dan berprestasi.
Prabu Mangku Negara berpendapat bahwa ” Motivasi terbentuk dari sikap (Attitude ) karyawan dalam menghadapi situasi kerja diperusahaan (situation). Lebih lanjut dikatakan bahwa motivasi merupakan kondisi atau energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan. Sikap mental karyawan yang pro dan positip itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk mencapai kinerja maksimal.
Sikap mental karyawan haruslah memiliki sikap mental yang siap sedia psikofisik ( siap secara mental , fisik, situasi, dan tujuan ). Artinya karyawan dalam bekerja secara mental, siap fisik, situasi dan tujuan memahami situasi dan kondisi serta berusaha keras mencapai target kerja ( tujuan utama organisasi ).
Hubungan antara stres kerja dengan beberapa hal di atas (kecuali kinerja) relatif lebih jelas. Sebagai contoh, tingginya level stres kerja dipersepsikan berhubungan secara negatif dengan motivasi.Tingginya level stres kerja juga dipersepsikan berhubungan secara negatif dengan kesehatan mental, namun bagaimana hubungan tingkat stres kerja dengan kinerja masih mengandung persoalan, menurut Miner (1988), masih merupakan isu yang diperdebatkan.
Suatu hipotesis bentuk U terbalik telah lama diterima sebagai penjelasan mengenai hubungan antara stres kerja kinerja. Namun demikian, beberapa studi terakhir tidak mendukung hipotesis tersebut. Miner (1988), telah berulang-ulang menemukan kinerja cenderung menurun dengan meningkatnya level stres.
Hal itu setidaknya juga didukung oleh Sullivan dan Bhagat (1992). Dalam studi mereka mengenai stres kerja (yang diukur dengan role ambiguity, role conflict, dan role overload) dan kinerja, pada umumnya ditemukan bahwa stres kerja berhubungan secara negatif dengan kinerja.Namun demikian, temuan Miner dan Sullivan & Bhagat tersebut perlu dikaji lebih lanjut agar lebih memperjelas fenomena yang ada,lebih-lebih jika dipertimbangkan adanya variabel moderator.
Dalam kaitannya dengan variabel moderator, beberapa studi telah mengidentifikasi sejumlah faktor yang dianggap dapat memperkuat/memperlemah pengaruh stres kerja. Sebagai contoh, perbedaan karakter kepribadian individu dapat menyebabkan sebagian (beberapa)karyawan relatif tidak mengalami penderitaan atau kerentanan relatif lainnya terhadap pengaruh stres kerja. Kepribadian tipe B, misalnya,yang digambarkan sebagai person yang sabar, tidak ambisius, tidak kompetitif, cenderung lebih aman terhadap pengaruh stres dibanding dengan individu yang berkepribadian tipe A yang digambarkan sebagai pribadi yang ambisius, cepat tersinggung, selalu terburu-buru, dan sangat kompetitif sehingga mudah terkena stres.








